Menggantikan Kiai Said
Di sepertiga malam pengurus pesantren nampak wira-wiri [1] membangunkan santri untuk q iyamul lail . Ada yanglangsung bangun, ada yang bangun sekedar mengelabuhi, adapula yang sulit dibangunkan hingga semprotan air harus menghujani wajah santri.Selesai solat tatkala memanjatkan do’a suasana begitu hening, mata santri pada tertutup khusyu’. Dikira khusyu’ dalam do’a ternyata mereka lelap dalam tidur. Sesaat kemudian waktu subuh harus menghentikan nyenyaknyatidur santri.Adzan dikumandangkan disambung lantunan solawat sembari menunggu iqomat. “Ilaahi lastulil Firdausi ahlaa, walaa aqwaa alaa naaril jahiimi, fahab li taubataw waghfir dzunu u bi, fainnaka ghoofirudz dzanbil adhiimi.” Solat subuh ditunaikan dan dilanjutkan mengaji Al-Qur’an.Gemuruh suara al-Qur’an memenuhi aula santri putra dan putri. “ Kalamun qodiimu laa yuma l lu samaa ‘uhuu *Tanazzaha An qouli wa fi’li waniyati, Bihii asytafi min kulli daai wanuuruhu *Daliilun li qolbi indajahli wa khai...