Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Pantang Menyerah

Gambar
 Aku tak tahu sampai kapan Jalan yang ku lewati sampai ujung   Lelah...... Aku sangat merasakannya Dengan jalan yang telah aku tempuh Mungkin memang harus ku kendarai dengan baik Agar sampai di tujuan dengan keinginan   Tapi, apakah diriku bisa ? Bisakah kendaraan itu bercampuran dengan pikiran ku ini ? Ataukah kendaraan itu yang bisa membawa aku ke jalan yang benar?   Oh... Tuhan ? Ada kah seseorang disana yang kau siapakan untuk ku Untuk bersama menjunjung beban yang ku pikul ini Agar mau ku bagi kesedihan ku Mau ku bagi kesulitan ku   Tak tahu apa lagi yang harus kulakukan Aku... Wanita yang tak lepas dari dosa Wanita yang penuh dengan kesalahan Yang berharap engkau mau menunjukkan kuasa-Mu itu untuk ku By. Bia abida

SIASAT

Gambar
Sumber :  wallpaperaccess.com/nature-rain Prelude Juni kemarin Air mata langit pecah Berhamburan menemui tanah - tanah kerontang Menghilangkan kegersangan ibu Pertiwi Dihapusnya jejak - jejak debu di jalanan itu dengan udara sejuknya Di sepanjang bulan Juni kemarin Air mata langit menyetubuhi daun - daun kering Hingga tak kutemui lagi kegelisahan - kegelisahan pada padi - padi muda Akar - akar pohon bunga itu tertawa girang di dalam tanah Membuatku geleng - geleng pada siasat hujan bulan Juni yang tersirat   Hujan Bulan Juni tahun ini tak setabah hujan bulan Juni pada masamu, Eyang Ia tak mampu menyembunyikan rintik rindunya pada pohon bunga itu Ia tak mampu menyembunyikan rintik rindunya pada Tanah - tanah padat itu Tanah yang enggan menampung resapan Lalu menciptakan genangan - genangan yang menyesakkan "Tersanjung do'a untuk eyang Sapardi Djoko Damono Al Fatihah" Tuban, 2021 Oleh : Anis Nauffa__   

Asahan Rasa

Gambar
                                                                                    Atas nama sendu Dimalam yang teduh Berdialog syahdu Berevolusi dalam halu   Adakah yang lebih firdaus Dari silir angin disetiap kebahagiaan Rasa yang tampak bak aksara Menggariskan euforia yang menggelora   Menuai sajak demi sajak Sungguh kau misteri dalam memori Membordir relung hati Dalam dimensi ruang dan waktu   Hembusan angin membuat getir Dengan barista yang menuainya Tanpa mengutarakan unsur hati Bertelepati dalam dermaga kerinduan   Tuban, 25 Maret 2021   Oleh: Filaya . Anggota ISMARO 2020

5 DETIK KENANGAN

Gambar
  Sepertihalnya.. Membayangkanmu membaca ini adalah hal termanisku untuk kembali. Kembali jatuh cinta pada masa yang tiada. Masa dimana kenangan begitu kekal menyemburkan air mata Saya rindu... Rindu rasa yang dulu-dulu. Teruntukmu aku ingin bercerita. Tentang seorang perempuan tanpa kata-kata. Dan tentang seorang laki-laki yang tak bisa apa-apa terkecuali setia. Aku kini menjadi seorang pejalan tangguh. Yang selalu melambaikan tangan pada kenangan. Selamat tinggal bagi yang mencoba pergi. Langkahku adalah pintu. Dimana aku masuk dan tak butuh kembali. Maka menangislah sesukamu. Toh, itu tak mampu menarik pundakku dengan tangan-tanganmu. Sudahlah ..... Jangan teruskan jika itu terjadi pasti akan berujung panjang. Oleh: Pramelia Arinda Putri

Puisi Begawan: "Masih Ada"

Gambar
Saat aku merasakan angin tak ku temukan kesejukannya Saat aku mendengar suara tak aku jumpai sumbernya Saat aku mencium harum bunga-bunga tak terlihat wujudnya Hidup hanyalah informasi berupa ilusi Aku tahu angin,  suara,  bau,  hanya dari kata mulut candu Hilang... Lenyap... Musnah... Hancur... Kawan... Tak ada yang hilang,  tak ada yang lenyap, tak ada yang musnah,  tak ada yang hancur Aku tetap merasakan angin dari kesejukan jiwamu Aku mendengar suara dari lirih bicaramu Aku mencium harum bunga dari segala pengabdianmu Semarang,  07 Maret 2018

Puisi Begawan: "Kabut"

Gambar
Wahai kabut mengapa engkau datang dengan membawa rasa dingin Kabut menjawab aku hanya ingin menyejukkan dari rasa panasnya tubuhmu Wahai kabut mengapa engkau menghalangi sianar matahari Kabut menjawab supaya engkau bisa membedakan warna merah dengan putih Wahai kabut berada di tempat yang lebih tinggi Kabut menjawab supaya mereka yang berada ditempat yang rendah tidak merasa terbebani olehku Wahai kabut aku sadar engkau membawa rasa dinginmu itu simbol kemesraan Sekalipun engkau menghalangi sinar matahari tapi engkau masih menyisakan jarak padang mataku yang banyak dosa Keberadaanmu disana simbol dari kesucian yang tak pernah menimbulkan perpecahan Engkau menemani gunung, pohon, rumput, angin, manusia diatas sana dari keserakahan Keberadaanmu wujud dari ketentraman dari segala kegelisahan Wonosobo ,  Desember 2017

Puisi Begawan: "Tidak Punya Malu"

Gambar
Saat garis katulistiwa membentang di Nusantara Bongkahan tanah surga tersedia disana Hijaunya daun menghiasi paru-paru dunia Kuningnya padi mewarnai pulau sumatra hingga Jawa Batang sagu berjejer rapi hingga daratan papua Emas, intan, tembaga, dan perak terkubur di setiap tanah yang kita injak Minyak dan gas tersembunyi di balik akar rerumputan Rempah-rempah hingga milyaran jenis sayuran tumbuh subur di antara kita Ikan segar hidup rukun di samudra nusantara Sekolah hingga universitas teremuka menyebar luas dari sabang sampai merauke Ulama’ hingga Habib merasakan kedamaian yang tiada tara Akademisi, peneliti, paranormal, dukun bayi, dukun santet sangat lengkap dengan karya mereka Para penganut agama dan kepercayaan yang berbeda menghiasi tegaknya Binekha Tungga Ika Harta pusaka Nusantara berada pada pelukan ibu pertiwi cantik jelita nan mempesona, wajah indahnya kembang wijaya kusuma, harum aromanya melekat bunga melati, sorot matanya sinar matahari, senyum m...

Puisi Ihda: "Bayangan Semu"

Gambar
Terkadang apa yang kita lihat itu belum tentu Nyata, hanya sekilas bayangan semu yang harus kita perjelas. Jangan mudah menilai orang yang belum banyak kita tau, sebelum tau asal dan usul orang tersebut. So, tetap berdamai dengan lingkungan dan orang2 terdekat kita, karena kita tidak tau kalau orang2 itulah yang akan membuat kita menjadi karakter yang lebih baik dan bisa mewujudkan cita2 yang mulia.

Puisi Begawan: "Manusia Aman"

Gambar
Jika engkau kuat, janganlah melemahkan Jika engkau kencang, janganlah mendahului Jika engkau tajam, janganlah engkau melukai Jika engkau sakti, janganlah menindas Jika engkau tahu informasi, janganlah menyembunyikan Jika engkau luas, janganlah mempersempit Jika engkau tinggi, janganlah merendahkan Jika engkau pandai, janganlah membodohi Jika engkau alim, janganlah mengkafirkan Srigala tidak bisa menjadi domba, begitu sebaliknya Manusia berpotensi menjadi keduanya. Dan jika engkau manusia, jagalah dirimu dari jurang kesesatan Jadilah manusia beriman yang berambisi menegakkan keamanan Semarang, 2017

Puisi Begawan: "Islam Kaya Raya"

Gambar
Nabi Adam kaya raya, manusia penghuni syurga Nabi Sulaiman kaya raya, pemelik istna sekaligus ratu belqis Nabi Musa kaya raya, penakluk Firaun Nabi Isa kaya raya, penebar kasih sayang Nabi Muhammad kaya raya, penguasa Makkah dan Madinah Khulafaur Rosyidin kaya raya, pendiri kerajaan Islam Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani kaya raya, pemilik tanah Baghdad Walisongo kaya raya, perumus kerajaan Islam Nusantara KH. Hasyim As'ari kaya raya, beliau punya NU KH. Ahmad Dahlan kaya raya, beliau punya Muhammadiyah Muhammadiyah punya rumah sakit dan sekolahan NU ada pesantren salaf dan modern Islam tegak berdiri dalam bingkai persatuan dan kesatuan Islam begitu kaya raya Hingga kemiskinan tidak menampakkan dirinya Kaya ilmu, harta, kebudayaan, kearifan, kasih sayang, hingga sangat kaya kesederhanaannya Sungguh tidak aku temukan kemiskinan dalam Islam Praktek indah ibadahnya berlipat-lipat ganda bonusnya Pengampunan dosa terbuka lebar Kebersamaan dihutung 10 kali dalam selangk...

Puisi Begawan: "Menari"

Gambar
Aku adalah penari yang akan menghibur kesunyian hatimu Tarian telanjang dengan gerakan memanjang Alunan nada mengiringi gerak langkah kehidupan Aku menatapmu bagaikan rembulan yang berusaha menerangi kegelapan Tarian ku bukan sekedar gerakan, tengoklah ada kemesraan yang terpendam Jakarta, 2017

D'oa ISMARO untuk Korban Bencana di Indonesia

Gambar
INNALILAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN Ya Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kami Nabi Muhammad yang cinta dan dicintai Allah yang menghilangkan segala penyakit dan yang menghilangkan kesempitan dan kesusahan Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan Rejeki kepada orang yang dikehendaki Nya tanpa hisab Luaskanlah dan perbanyaklah rizqiku dari segenap penjuru dari perbendaharaan rizqi Mu tanpa pemberian dari makhluk berkat kemurahan Mu jua Dan limpahkanlah pula rahmat dan salam kepada para sahabat beliau Ya Allah sejenak kami bersimpuh dalam kekhusuan berserah diri pada Ilahi bermunajat pada sang penguasa alam ini Ya Allah Mohon ampunan hambamu yang hina ini tiada daya dan tiada upaya hanya berserah diri padaMu ampuni segala dosa kami semua kekhilafan kami selama ini yang terkadang lalai akan kewajiban kami sebagai umatMu dan terhanyut akan nafsu dunia yang hanya sebagai tempat persinggahan kami Ya Allah berbagai musibah menimpa negeri kami tercinta ini namun...

Puisi Fatimah: "Tanda Tanya"

Gambar
Terus saja detik-demi detik berlari mengejar masa meski mentari masih terlihat malu menampakkan wujudnya setidaknya garis-garis cahaya itu mampu mengusir petang saat itu, nampak sebuah bayangan pada kaca yang mengembun maya, namun seolah-olah nyata seperti rindu aku seperti mendengar rindumu tapi semua masih diagnosa meski pagi ini tak ada kabar yang kuterima selain bisikmu yang kutemui pada sisa mimpiku tadi malam pagi ini memanggilmu, ku titipkan pada semilir angin yang lewat tentang rasaku lalu secepatnya menghembus dalam porimu hawa dingin yang menusukmu hingga kau terbangun itulah aku di situ

Puisi Fatimah: "Melawan Setan"

Gambar
Dalam keadaan yang menahanku untuk dapat bersujud kepadaMu Keadaan yang melarangku membaca kitabMu Dalam keadaan ini, Setan-setan mengambil kesempatan Mereka terus menggoda iman Menawarkan kebebasan Mengajak bersenang-senang Berharap dapat melupakan kehadiranMu walau sekejap Aku tahu.. Ini pertempuran melawan setan Setan-setan begitu girang jika hatiku berhasil mereka kalahkan Kutemui diriku yang tetap berupaya menguatkan iman, Menghilangkan bisikan-bisikan yang menjerumuskan Dalam keadaan ini pun tak akan ku izinkan Mereka menertawai kebodohanku, Menertawakan kelemahanku Karena kita manusia berakal, bukan manusia bodoh dan lemah Manusia harus menang melawan setan

Puisi Fatimah: "Diagnosa Rasa"

Gambar
 في حين الأحيان Di waktu tertentu كأنني سمعت صوت حنينك Aku seperti mendengar rindumu لكن ما زال قلبي في ريب Tapi aku masih ragu أخاف اذا كنت اخطأت في فهمها Aku takut bila salah mengartikannya أكنت أنا حساسية, ام هي تجري كما هي؟ Akukah yang terlalu perasa ataukah benar ininyata adanya? وقد أقرأ أحيان Disuatu waktu saat aku sedang membaca وكأن حروفك أيماءة Semua aksaramu bagai pertanda بل اخاف اذا أخطأت في فهمها Tapi aku takut bila salah menafsirkannya اتخفي الغرام......؟ Benarkah kamu menyimpan rasa? كلها لم يزال في الظلام Semua  masih DIAGNOSA

Selamat Jalan Kak Vidi

Gambar
Kak Vidi,,, Dalam raut wajahmu tergambar sosok Arjuna Dalam tanganmu ada kekuatan  besar yang dimiliki Bima Dalam matamu ada sosok Yudhistira yang sangat tajam dalam memandang Dalam jiwamu terdapat Nakula-Sadewa sebagai penyeimbang Semua itu engkau berikan dan sumbangkan kepada ISMARO Kak Vidi,,, ISMARO ada karena Tuban Engkau ada karena Tuhan Atas kepemimpinanmu ISMARO selalu dilindungi Tuhan Kak Vidi,,, Gerak langkahmu terlalu cepat untuk aku ikuti Tajamnya fikiranmu sulit aku mengerti Kelembutan hatimu tak terangsang dalam jiwa ini Sunggu aku merasa sangat berhutang kepadamu Kak Vidi,,, Di penghujung masa kepemimpinanmu terhadap ISMARO aku menitipkan pesan “Selamat engkau telah mampu membawa kami ke jalan menuju masa depan, dan jalan itu aku beri tanda, Kak Vidi Selamat Jalan Teruslah Mengalir Sampai Jauh” Semarang, 19 Nopember 2017