Ayunan Tukang Becak Sunan Bonang


Ilustrasi

Siapa yang tidak tahu Sunan Bonang? Penyebar Islam ditanah Jawa, Cucu dari Ibrahim Asmoroqondi yang makamnya terletak di Tuban Jawa Timur. Makam Sunan Bonang terletak di belakang masjid agung Tuban, sedang kakeknya di Ds. Gisik Harjo, Kec. Palang, 10 Km dari makam Sunan Bonang. Ribuan jamaah dari pelosok negeri Nusantara tiada henti berkunjung kesana, saking ramainya warga sekitar memanfaatkan para peziarah dengan menggunakan alat transportasi becak dari parkiran bus menuju makam yang ditempuh sekitar 2 Km. Alat transportasi yang berjaya pada tahun 1990an kini masih dipertahankan oleh masyarakat Tuban, ratusan tukang becak rela antri bergantian untuk menjemput para peziarah. Mungkin saja mereka bukan hanya dari warga sekitar wilayah perkotaan, pasti ada warga dari pelosok daerah Tuban, bahkan luar daerah Tuban menjadi bagian dari tukang becak Sunan Bonang. Sering kali orang Jawa bilang "Wong mati seng iso nguripi wong seng ijeh urip iku ya Walisongo", Orang meninggal yang bisa memberi kehidupan orang yang masih hidup adalah Walisongo.

Betapa hebatnya keistimewaan berupa karomah Sunan Bonang, sudah meninggal sekian ratus Tahun, masih banyak yang mengharapkan dakwah beliau secara langsung, garis Allah sudah jelas, anak cucu kita hanya mendengar riwayat cerita mengenai sosok Sunan Bonang dari orang tuanya atau gurunya, kuatnya kasih sayang kepada leluhurnya begitu tinggi sehingga alternatif untuk dekat dengan para leluhurnya adalah berziarah kemakamnya. Jadi ziarah ke makam siapapun saja, selain mengingat kepada kematin, tingkat keduanya adalah rasa cinta kepada orang yang sudah meninggal dan kemungkinan terkicil yang ada pada diri kita adalah rasa ingin menikmati kehidupan dan perjuangan yang tinggi bersama para kekasih Allah tersebut, jadi banyak orang ingin bertemu dengan para Nabi, Rasul, dan leluhurnya, itu bagian dari cintanya kepada mereka. Kita tidak boleh mengatakan kepadanya yang ia lakukan itu tidak sesuai syariat agama. Nanti dulu, konteksnya apa?, kalau dasarnya cinta tidak ada masalah, jikalau sudah masuk dalam ranah menyekutukan Allah, itu yang harus di benahi. 

Ratusan tukang becak Sunan Bonang rela mengantri hingga panjangnya ratusan meter memiliki makna kerukunan dan rasa persaudaraan antar tukang becak. Alat transportasi bermodal ayunan layaknya sepeda ini mengalami modifikasi dizaman modern ini, dikota-kota lain ada yang menggunakan mesin kendaraan bermotor, jadi tinggal ngegas saja tidak perlu mengayuh pedal kakinya. Antrian tukang becak mencapai ratusan meter jarang dijumpai didaerah lain, jiwa gotong royong masyarakat Tuban hasil dari pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Bonang. Tidak saling berebut dan serobot demi mendapatkan penumpang, mungkin ada satu dua mereka yang nekat keluar dari jalur antrian, tetapi kedahsyatan bangsa Indonesia sejatinya adalah berbeda pendapat tetap menggenggam nilai persatuan dan kesatuan. 

Nilai persatuan dan kesatuan serta gotong royong adalah asli dari produk peradaban Nusantara. Para leluhur kita sudah memperhitungkan bagaimana anak cucunya nanti bisa bersatu dalam bingkai Binekha Tunggal Ika. Karakter semacam inilah jarang bangsa Indonesia lakukan sebagai dasar bernegaranya. Negara yang seharusnya memotori kebutuhan rakyatnya, pelan-pelan pemangku jabatan negara mengambil yang itu seharusnya milik rakyat. Kekuatan bangsa Indonesia sebenarnya cukup besar dan kuat, bukan berarti kekuatan itu untuk menguasai segalanya, tetapi penerapannya harus kita lakukan sesuai dengan ril persatuan dan kesatuanya. Sifat asli bangsa kita adalah memangku siapa saja agar berkehidupan yang harmonis. Sakalipun kita di cubit tidak serta merta kita membalas dengan pukulan, kalaupun itu dilakukan sangat mudah. Tetapi gotong royong yang dikedepankan.

Rata-rata manusia sekarang tujuan dari segala aktivitas kerjaanya adalah memburu materi, segala sesuatu ia lakukan demi mendapat hasil sebanyak-banyaknya, tingkat keburukan yang jarang mereka sadari adalah bagaimana mereka juga mendapatkan laba. Bukan sesuatu yang yang buruk ketika manusia mencari laba, kesadaran dalam diri mereka bisa terbengkalai hanya karena mencari laba, sehingga sesuatu buruk bisa saja terjadi dalam pusaran persaingan mencari laba. Tukang becak dalam proses mencari uang tidak sampai lima menit. Mencari uang hanya terjadi saat transaksi saja, setelah mereka mengayuh becaknya sudah tidak lagi memikirkan uang apalagi laba, sangat tidak mungkin itu terjadi, kecuali penumpangnya mengasih lebih dari transaksi awalnya.

Dalam pandangan kehidupan mereka berprofesi sebagai tukang becak Sunan Bonang tentu hasil dengan kebutuhan ekonomi keluarga masih perlu pemasukan tambahan untuk memenuhinya, jangankan tukang becak, para pejabat dan petinggi negara saja masih meresa kurang terpenuhi kebutuhan ekonomi keluaganya sehingga mereka harus korupsi. Tukang becak dengan antrian panjangnya sanggup bertahan bahkan sampai ada yang berpuluh-puluh tahun. Hal tersebut menandakan bahwa tujuan mereka bukan mencari materi atau laba, mereka sadar bahwa peluang tidak hanya sebagai pegawai pemda, buruh pabrik, dan staf Bupati . Fasilitator mempermudah para peziarah hendak menuju makam Kanjeng Sunan Makhdum Ibrahim yang mampu membuat mereka bertahan.

Sifat istiqomah dan disiplin yang mereka lakukan sebagai aset besar kekuatan bangsa, mengapa? Tidak ada suatu bangsa yang mampu memprtahankan kebudayaan hingga beratus-ratus tahun kecuali bangsa Indonesia. Islam datang ke Pulau Jawa melalui Walisingo mengalami tantangan dari pribumi, masalahnya adalah Islam bisa mereka terima asalkan mereka tidak meninggalkan watak aslinya. Kerja keras para wali sehingga Sunan Bonang menciptakan alat musik Gamelan berupa Bonang, Sunan Kalijaga menggubah cerita-cerita mahabarata dan ramayana, hingga mengalihkan negara dari Majapahit Hindu-Budha menjadi kerajan Islam Demak. Semuanya mereka lakukan hanya untuk mengemban misi Rasululloh, bukan ekspansi Islam dari Arab ke Jawa.

Manusia Indonesia pelan-pelan harus mengubah cara berfikir serba instan. Hidup didunia hanya sesaat, proses kehidupan kita tidak bisa kita berfikir atau melakukan hanya sekejap. Perlu proses untuk menciptakan kekuatan daya magnit dengan tarik-menarik yang kuat, nantinya akan menciptakan sebuah gelombang baru dalam hidup yang bernilai. Akibat dari kenikamatan sesaat manusia terperosk ke lubang kecil yang diperdalam mereka sendiri. Tipu daya teralalu sering meraka makan, adu domba mereka terima dengan kebiasaan, seringkali kita sangat mudah menggukan cara berfikir yang sempit untuk melihat lubang, sesungguhnya ada ruangan besar dibalik lubang yang kita akan takjub melihatnya.

Secara pelan-pelan ayunan tukang becak mengantarkan penumpang menuju makam kanjeng Sunan Bonang, kerena dari terminal jalanya agak menurun, mungkin tidak perlu menancapkan kakinya ke pedal untuk menambah kecepatanya. Ketika kembali dari makam menuju terminal bus perlu kekuatan ekstra agar becak mereka berjalan membawa dua-tiga orang penumpang karena jalannya menanjak. Tidak menjadi masalah bagi mereka, karena rasa cinta kasih tukang becak dengan penumpang dan Sunan Bonang sudah menyatu. Tidak terasa capek walapun keringat bercucuran, yang mereka rasakan optimisme untuk segera sampai tempat tujuan secara perlahan. 

Penulis 
Ahmad Ali Zainul Sofan
(Cah Jatirogo dan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

Kiriman Paling Ngehits

Pantaskah Tuban Sebagai Syurga Menurut Al-Quran?

Presiden RI, Bumi Wali, dan KIT

Masalah Patung, Ada Oknum yang Ingin Mengadu Domba Pribumi dengan Tionghoa Tuban

Sowan Kanjeng Syekh Adipati Ranggalawe