Persaudaraan Korek Api


Setiap orang membutuhkan yang namanya korek api, apalagi bagi seorang perokok pastilah korek api sangat berharga, sebgaian mereka menganggap koek api lebih penting dari rokoknya. Punya rokok tak punya korek api kegelisahan mendalam yang pasti mereka rasakan, tak punya rokok strategi untuk mendapatkanyya bisa leih mudah. Ibu-ibu rumah tangga yang masih memasak dengan tradisi kayu bakar (pawon) selalu tersedia korek api disebelah tunggkunnya. Memang korek api sangatlah penting bagi keberlangsungan kebutuhan hdiup manusia.

Kecil wujudnya, keberadaanya sangat di nomor satukan, pun tidak boleh direhmekan asal dia kecil tanpa ada pengelolaan yang baik dan benar dirinya akan membahaykan apapun saya yang siap terbakar olehnya. Maka dibuthkan managemen yang tepat untuk menyimpan sekaligus mengelola korek api itu sebagaiman fungsinya. Tak lepas dari itu juga korek api bisa saja mempunyai peranan penting dalam sambungnya sebuah persaudaraan. Kalau kita sering nongkrong di warung kopi, cafe, ataun tempattempat berkumpulnya banyak orang, lebih-lebih kebeban untuk merokok, korek api pun dapat kita jumpai.

Hampir setiap perjalanan yang pernah dilakukan para perokok-perokok itu selain membawa bekal inti juga tak pernah luput bekal yang paling inti berupa rokok. Selain sebagai alat penyeimbang dalam sebuah obrlan atau teman santai rokok tak pernah luput dari saku atau tas. Seringkali memang saya dalam bepergian tak pernah melupakan rokok, lebih sering ketika korek api itu tiba-tiba menghilang. Sadar atau tidak, lebih banyak tidak sadarnya setiap orang mungkin seringkali lupa atas korek apinya, bahkan mereka pun sangat susah untuk mengigat dimana terkahir korek api itu diletakkan.

Bagi sesama perokok saling berbagi dan bercerita dalam sebuah diskusi tak akan lebih asyik jika mulut mereka tidak ada alat hisapnya, hampir sebagain orang beranggapan bahwa rasa capek dan kinerja otak untuk menemukan sebuah ide-ide tajam 50% dari ketika mereka sedang merokok. Tidak membela kaum perokok yang mengesampingkan yang tidak merokok, melainkan sikap sikologi seseorang dalam menghadapi keadaan yang berbeda-beda.

Setiap korek api tiba-tiba hilang atau lupa atas keberadaanya tanpa ambil pusing mencarinya meresa lebih cepat meminjam korek apinya tetangga disekitar. Pastilah untuk orang yang tidak kita kenal akan memohon izin terlebih dahulu dibandingkan dengan sesama teman sendiri bahkan bisa saja korek api itu kita klaim milik kita yang sedang lupa atau kehilangan korek api.

Mungkin jika dihitung sejak saya merokok sampai sekarang peristiwa meminjam korek api dengan orang lain tak terhitung jumlahnya, namun keadaann yang memaksa untuk segera menghisap sebatang tembakau harus segara dilakukan. Maka, terpakasa permohonan izin untuk meminjam korek apis ering kali terjadi. Sejahat-jahatnya orang, bahkan orang itu mempunyai karakter cuek sekali kita meminjam yang namanya korek api, hampir tidak pernah tidak untuk meminjaminya.

Setelah berhasil menyalakan rokok dan proses transaksi peminjaman korek api itu tidak tuntas jika tidak mencoba memberikan pertanyaan seputar identitas atau asal-asul sang pemilik korek api. Terlebih lagi jika suda masuk kedalam topik pembahasan yang mengalami feed back komunikasi disitulah tumbuhnya persaudaraan. Hampir setiap tempat yang saya kunjungi peristiwa seperti ini sering kali terjadi, dengan keadaan santai dan obrlan hangta yang lebih mendalam, maka pertukaran kontak nomor telfon seringkali terjadi.

Dalam proses mencari persaudaraaan tidak perlu sibuk dengan membuat gran desain yang sedemikan rupa supaya menambah jumlah saudara kita. Terlebuh setiap agenda demokrasi orang-orang yang memiliki ambisi bisa saja melaukan sejumlah cara dengan menjatuhkan satu sama lain guna meraih suara terbanyak. Hal ini hanya bersifat sementara, tidak pernah ada suatu peristiwa dengan kita saling ngobrol lebih akrab dan santai sambil menghisap rokok. Maka nuansa yang akan terjadi hanya sesaat saja, tidak pernah ada keihklasan satu sama lain. Seringkali yang muncul ada rasa pamrih yang bekelanjutan.

Pernah dalam sebuah perjalanan disebuah gunung saya denga empat orang teman dari Aceh, Padang (semua tinggal di Jakarta), dan Rembang mampir dahulu di tempat regitrasi sekaligus merilekkan tubuh yang lelah dalam perjalanan. Disitu saya sedang duduk sendiri, mulut sudah mulai terasa hambar ingin merokok, sekaligus cuaca dinging yang menusuk hingga ke tulang-belulang. Setalah mendapatkan rokok dalam tas, kebingungan saya ketika lupa menaruh dimana korek api, padahal seingat saya tadi letaknnya bebarengan. Tanpa ambil pusing saya meminjam korek api sebelah saya duduk yang sedang morokok.

Tiba-tiba kami saling tegur sapa, saling berkenalan satu sama lain dan membukan obrolan panjang sampai urusan politik, negara, Islam, alam semesta, hingga mereka lupa jika waktu itu saat ia menanjak keatas gunung, sebab kedatangan mereka lebih awal dari kami. Kelompok pimpinan Mas Sugeng ini berjumlah 18 orang, saya bejabat tangan satu persatu dengan mereka dan merasakan keakraban yang sanga luar biasa. Menariknya adalah ketika masing-masing saya tanya asal-asul dan identitas mereka menjawab dengan punuh senyuman. Disitulah rasa lelah dan capek melai terasa hilang dari tubuh saya. Hingga saya ditawari naik bersama dengan kelompok mereka

Kerena masing-masing anggota kelompok saya masih ada yang sibuk menata barang, jadi saya batalkan tawaran mereka, rasa kecewa ada tentunya karena obrolan yang sempat kami bangun masih terasa kurang lebih mendalam dan tentu saya ibarat selesai makan kita langsung pergi tanpa dituntaskan dengan minum. Atas jasa korek api itu sampai saya ditawari oleh mereka untuk singgah di kota mereka berasal. Mingkin kalau saya meng-iyakan satu persatu rumah mereka saya singgahi bisa 18 hari kebutuhan  hidup saya tercukupi. Dan mereka menyahut dengan tertawa secara serentak.

Penulis,
Ali Zainul Sofan

Kiriman Paling Ngehits

Pantaskah Tuban Sebagai Syurga Menurut Al-Quran?

Presiden RI, Bumi Wali, dan KIT

Masalah Patung, Ada Oknum yang Ingin Mengadu Domba Pribumi dengan Tionghoa Tuban

Sowan Kanjeng Syekh Adipati Ranggalawe