Pohon Natal Berbuah Durian


Ramainya hiruk-pikuk peringatan Natal dan tahun baru kerap menjadi sasaran liburan keluarga disetiap daerah. Para perantau di kota-kota besar meluangkan waktunya untuk bertemu sanak-family di kampungnya. Tidak banyak juga para muda-mudi, mahasiswa, dan beberapa gerombol remaja ramai-ramai datang ke tempat-tempat perbelanjaan. Pernak-pernik dan hiasan Natal terpampang indah dan begitu rapinya layaknya hari raya lebaran. Fonomena unik di tanah air terasa sejuk atas suguhan berupa kedamaian dan kerukunan atar sesama manusia.

Pada hari umat Kristiani ramai-ramai ke geraja melakukan upacara peringatan hari kelahiran Yesus, pengawalan dari aparat begitu ketatnya, selain aparat juga beberapa kelompok organisasi tertentu dengan pasukan pengamannya juga turut menjaga hari sakral umat Kristiani dari segala bentuk ancaman. Sebab gencarnya aksi teror pada saat peryaaan hari besar umat beragama seringkali terjadi di Indonesia. Gereja, Keuskupan Agung penuh dengan ketaatan umat yang datang sehingga memaksa lahan parkiran melebar sampai keruas jalan protokol kota. Tampak jga terlihat para pedagang asong menjajakan dagangannya di emperan Gereja.

Bulan penghujung tahun selalu menjadi momentum para pelaku usaha untuk eksis menawarkan segala bentuk produk yang sekiranya laris dipasaran. Bukan hanya akhir tahun saja, pada hari raya Idhul Fitri saja hampri semua pertokoan sangat lengkap dengan aksesoris yang biasa dikenakan umat Islam. Toko-toko yang biasanya tidak menjual pakaian, peci, baju taqwa, sarung, terpaksa membanting setir demi mamnfaatkan momentum besar tersebut sekaligus para pegawainya dipaksa memakai peci  untuk laki-lai dan berkerudung bagi perepuan yang tidak terbiasa berkerudung.

Natal yang terjadi setiap 25 Desember sudah disambut pada awal bulan oleh para pelaku usaha. Toko-toko swalayan dan mall besar menghiasi lokasi perbelanjaan dengan pohon Natal, lampu warna-warni, topi  Sinterklas, sekaligus terompet yang siap ditiup menjelang datangnya tahun baru. Rahmat tuhan bagi hambanya tersebar melalu hal-hal yang sering kali diperdebatkan. Apa salahnya mengambil peristiwa dengan cara saling menjaga sesama dan melindungi demi terwujudnya kemaslahatan bersama. Akan tampak  indah jika momen-memen sepajang tahun, apa itu perayaan hari besar Nasional, Islam, Natal, Nyepi, disikapi dengan arif.

Sifat saling menuding kesalahan seseorang harus sedikit demi sedikit dikurangi. Ketidak sesuaian pendapat bisa disikapi dengan sikap bijaksana, tidak harus secara spontoan disampaikan dengan penguasaan ego yang ada pada diri manusia. Jika terus-menurus amarah tentang perbedaan yang tidak sesuai ditampilkan, rasa saling curiga satu sama lain akan terus tertanam. Akibatnya diatara mereka saling menjaga jarak sebab khawatir stabilitas hubungan dengan kepercayannya terganggu. 

Padahal fenomena yang terjadi beberapa tahun terakhir atas peristiwa perayaan hari besar mengundang insiden yaang tidak seharusnya terjadi. Pembakaran Masjid di Tolikara pada saat umat Islam melakukan ibadah sholat id, penggusuran Geraja di Depok, pengeboman tempat-tempat ibadah, bukti bahwa sebenarnya ada campur tangan dari pihak luar yang dibungkus rapi sehingga tuan rumahnya menyangka itu merukapan ketidak adanya toleransi sesama bangsa Indonesia.

Sekian abad kita hidup sebagai bangsa tidak ada yang namanya rasisme, radikalisme, intoleran, dan apapun saja yang bersifat penindasa. Faktanya semua umat manusia dengan kepercayaan yanag berbeda kita terima dengan lapang dada, bahkan kita juga sipa bekeja sama dalam dunia usaha, prinsip mendasar yang dibawakan oleh Islam Lakum dzi Nukum Waliyadin terlaksana sedikit demi sedikit dalam rangka menjaga persatuan dan kesatu bangsa dibawah semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Hampir tidak ada bedanya apa itu Lebaran Idhul Fitri dengan Natal, peristiwa tersebut menjadi berkah bagi para pelaku usaha, mereka yang sedang sibuk berdebat hukum mengucapkan “Selamat Natal” Halal/Haram memang belum mengerti bagaiaman bersikap dan berperan sebagai manusia. Toh belum ada cerita atau Nabi Muhammad dan para Sahabat membahas akan hal itu, bisa jadi Yesus sendiri tidak tahu menau tenang perayaan Natal selayaknya Nabi Muhammad tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya.

Adapun yang terjadi merupakan peristiwa budaya, lebaran yang sering kali diperingati oleh umat Islam 98% peristiwa budaya. Misal mudik, badan, kupatan, silaturahmi, semua peristiwa budaya. Jarang diatara mereka yang menyadari momentum seperti itu digunakan sebagai muhasabah apakah lebaran selanjutnya kita bisa bersua dengan keluarga sebagaimana lebaran tahun ini. Semau tidak ada yang tahu akan peristiwa yang belum tentu bisa terulang lagi. Secara lahiriah dengan adanya momentum yang menciptakan kebahagian bagi setipa orang yang merayakannya adalah proses silaturahmi, bertemu satu sama lain, dan saling sapa, saling menayakan keadaan saat ini. “Sekarang anaknya sudah berpa?, Kerjaannya bagaiamana?, Aktifitasnya apa? Kalau di Jakarta mbok mampir di gubukku”. Hampir petanyaan seperti itu muncul, entah terjadi pada saat Natalan atau Lebaran.

Maka sikap saling menjatuhkan dan mencari kesalahan orang lain dalam momentum parayaan hari besar tidak seharusnya dipelihara. Kita hidup di tempat yang melindungi sesama kok malah mencari pemecahbelahan. Apabila adanya ketidaksesuaian bisa disampaikan dengan baik-baik, tanpa teriak-teriak mengatakan, haram, musrik, kafir, bid’ah, kan lucu... Bagaimana itu orang-orang kok dengan pdnya mengatakan , haram, musrik, kafir, bid’ah, la wong saya ini sudah mengalama pasca itu semua. Jika memang mereka mengatakan dari haris nuraninya pasti tidak mungkin disampaikan dengan cara teriak-teriak, jikalau begitu ada kepentingan lain yang mereasa kepentingannya tidak sesuai dengan capaian yang diharapkan. 

Ada seorang yang datang ke swalayan hanya ingin melihat-lihat pohon Natal dengan hiasannya, ia datang seorang diri bersandal japit dan membawa tas kresek warna hitam. Entah apa isi tas yang ia bawa. Ia berkeliling memutari swalayan tersebut sapai ditegur oleh pegawainya. “Mau cari apa pak?” tanya pegawai. “Mau lihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang cocok bisa dibeli” jawab bapak itu. Nampaknya pegawai swalayan tidak terlalu yakin atas penampilannya yang akan membeli barang di swalayan itu. Sebab harga yang ditawarkan juga mengalami kenaikan harga demi merayakan momentum libur panjang. 

“Mas ini pohon Natal ya?, kok seperti pohon cemara di taman rumah saya yaa” tanya bapak memabdingkan pohon miliknya. Dengan kaget pegawai langsung menyahut atas pertanyaan bapak. “Iya pak, silahkan kalau mau beli. Macam-macam harganya. Minimal dibawah 2 juta” Jawab pegawai. “Saya sedang cari pohon Natal yang bisa berbuah durian mas, sebab pada musim durian kemarin saya belum kebagihan, siapa tahu berkah Natal berfihak kepada saya denagn adanya pohon natal berbuah durian. Berapapu harganya saya bayar. Ini di tas kresek ada uang cash, cek, buku tabungan didalam maupun luar negeri.” Mendengar ucapan bapak itu, pegawai swlayan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya. 

Penulis,
Ali Zainul Sofan 

Kiriman Paling Ngehits

Pantaskah Tuban Sebagai Syurga Menurut Al-Quran?

Presiden RI, Bumi Wali, dan KIT

Masalah Patung, Ada Oknum yang Ingin Mengadu Domba Pribumi dengan Tionghoa Tuban

Sowan Kanjeng Syekh Adipati Ranggalawe