Tugas Bersama Umat Islam Indonesia


Dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia, utamanya perjalanan kemerdekaannya sebagai bagian besar mayoritas, umat Islam menjadi aktor utama. Peranan umat Islam dalam berlangsungnya perjalanan bangsa Indonesia hingga era rofirmasi ini selalu menjadi lokomotif dari gerbong-gerbong yang beraneka ragamnya. 

Tidak tanggung-tanggung perjalanan sejarah Islamisasi pulau Jawa oleh Walisongo hanya dalam kurun waktu 30 tahun seluruh Adipati sepanjang pantai utara Jawa dipimpin oleh Adipati Muslim.

Segala jenis konflik atau pertengkaran yang sedang berlangsung, umat Islam bisa jadi terlibat sebagi salah satu objeknya, atau sebagai pihak ketiga, bahkan keempat keberlangsungan konflik tersebut. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia mempunyai benteng dan kekuatan yang sangat luar biasa. Selain sebagai umat mayoritas, umat Islam Indonesia juga mempunyai kekuatan kedua yaitu dalam wujud pelestarian kebudayaan yang berkolaborasi dengan syariat Islam.

Segala bentuk kampanye-kampanye globalisasi dan bolak-baliknya zaman, tantangan didepan mata semakin besar, dan semakin dekat dengan segala bentuk ancaman. Kemungkinan efek terburuknya bukan terletak pada Islamnya, akan tetapi pada sumber daya manusianya. Dimana ketika sudah terjadi sebuah ledakan yang mampu memporak-porandakan nilai moralitas manusia maka segala hal yang tidak seharusnya hacur bisa menjadi luluh lantah layakanya Islam sekarang.

Semua fikiran orang yang akan berefek pada sebuah argumentasi dan tindakan semakin mempersempit Islam. Datangnya Silam sejak sebelum Muhammad, dan setelah syariat Islam yang sudah tertata sedemikian rupa melalui kalamullah Al-Qur’an menjadi efek buruknya. Kampanye-kampanye bid’ah, kafir, musrik, syirik, dan sejenisnya menjadi peluru manis untuk disasarkan ke setiap jantung hati umat Islam, sehingga fakta yang terjadi adalah bahwa umat Islam Indonesia selalu sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya adalah masalah setiap keyakinan seseorang.

Fenomena pengeboman, profokasi umat, terorisme, khilfah, yang saat ini sedang hangat-hangatnya menjadi tantangan besar diera zaman now, sebuah zaman yang menuntut kita harus menjadi manusia saat itu juga, tidak boleh adanya sebuah ilmu masa silam, sebab itu akan menjadi semua orang menjadi primitif, dan tidak melek adanya perkembangan zaman. Secara garis besar tipu daya untuk menjatuhkan Islam sedah terjadi sejak era Nabi Muhammad, karena Islam datang sebagai Rahmat, maka benteng kokohnya berada pada Nabi Muhammad yang secara eftafet dipegang okeh pengikutnya Al-Ulama’ warosatul Anbiya’.

Sebagai bangsa yang tidak mengenal putus asa dan selalu mengandalkan situasi terpakasa dalam bertindak, Indonesia telah mampu menujukkan segala bentuk ketahan dirinya dalam situasi keruwetan akhir zaman. 

Tuntutan besar bagi umat Islam adalah bekerjasama atas segala bidang dalam rangka menjawab soal-soal duniawi. Umpanya MUI sebagai koordinator utama persatuan umat, maka dalam menanggapai segala bentuk yang akan mengakibatkan perbedaan dengan berujung pertentangan, sikap yang harus diambil adalah melaukan sebiah rekonsiliasi umat. 

Jika organisasi umat Islam sebagai wadah aspirasi umat, selayaknya NU, Muhammadiyah, LDII, Persis, FPI, dan lain-lain haruslah mampu menunjukan sikapnya bahwa mereka adalah kompas penunjuk arah umat Islam menuju sebuah titik terang dari perbedaan. 

Memang dalam hal estetika dan seni, sebuah perbedaan akan tampak indah jika satu dari yang lain saling melengkapi. Tidak berperan sebagi kekuatan masing-masing organisasi bahwa masing-masing adalah yang paling tepat, yang lain pasti keliru. Tanggung jawab bersama seharusnya dilakukan setiap orang, akan tetapi pada level negara, kementrian agama, atau lembaga negara yang berkewajiban mempersatukan umat itulah harus seimbang dalam mengambil sikap.

Coba jika kita bayangkan, umapanya dalam menentukan sebuah datangnya bulan Ramdhan/Syawal dengan berbagai ijtihad masing-masing oragnisasi Islam yang ada, jelas akan menghasilkan sebuah keputusan yang berbeda. Nah, perbedaan yang ada seharusnya jangan sampai membuat umat Islam yang berada di daerah yang tentu sangat terbatas akses informasinya membentuk sebuah keraguan, sehingga mereka akan mengambil keputusan konyol dengan mengikuti puasa yang paling terakhir keputusannya, dan lebaran yang paling awal keputusannya. 

Akan tampak indah jika ada lembaga tertentu yang siap dan sanggup menampung segala aspirasi dari hasil ijtihad, mengambil jalan tengah yang terbaik, selanjutkan disebarluaskan sehingga umat Islam yang hendak akan melakukan perintah agama menjadi nyaman dan khusu’ dalam menjalanknanya.

Sebab, jika segala sesuatu yang terjadi di Indonesia, maka siapa yang manjadi mayoritas, apalagi Islam sebagai ajaran Allah yang berupa kepatuahan dan perlindungan atas siapa saja, secara logis dialah yang akan siap menerima segalwa apa yang menjadi akibatnya. 

Jika Indonesia jaya, dan menjadi macan dunia, kewajiban umat Islam lah yang pertama bersyukur dan yang paling berhak menerima anugrah dari Allah demi untuk melindungi sekelilingnya, sebab sebagai Khalifah di bumi Indonesia, segala sesuatunya berada pada umat Islam. Begitu juga sebliknya, jika Indonesia mengalami keterpurukan, maka umat Islam yang pertama kali harus bertanggung jawab. 

Karena prinsip dasar sebagai umat mayoritas haruslah mampu menunjukan sikap pengayoman kepada kaum minoritas. Kaum mayoritas akan bebas bertindak segala hal apapun saja akibatnya, maka pertanggung jawaban atas tindakannya itulah cerminan dari Islam Rahmata lil Alamin.

Penulis, 
Ali Zainul Sofan

Kiriman Paling Ngehits

Pantaskah Tuban Sebagai Syurga Menurut Al-Quran?

Presiden RI, Bumi Wali, dan KIT

Masalah Patung, Ada Oknum yang Ingin Mengadu Domba Pribumi dengan Tionghoa Tuban

Sowan Kanjeng Syekh Adipati Ranggalawe